Gue kreator konten 5 tahun.
Dulu gue bangga. Klien dateng, gue tawarin konsep, gue ambil foto, gue edit, gue tulis caption, gue jadwalin, gue lapor. End-to-end. Bayaran 2-5 juta per project.
Sekarang?
Klien kirim brief: “Mau kayak gini.” Link-nya konten AI. “Bisa bikin versi lain? Budget 500 ribu.”
Gue: “Budget turun?”
Klien: “Iya, soalnya AI gratis.”
Gue diem. Nggak bisa marah. Karena dia bener.
3 bulan terakhir, 4 klien gue pindah ke AI. Bukan karena gue jelek. Tapi karena mereka bisa generate 100 konten seminggu tanpa bayar manusia.
Gue sedih. Gue marah. Gue takut.
Terus gue daftar kursus AI.
Sekarang gue ngajar AI cara bikin konten.
Ironi: Gue Ngajarin Robot Ngambil Kerjaan Gue
Gue belajar Midjourney, ChatGPT, Runway, ElevenLabs. Semua.
Gue hafal prompt buat bikin foto katalog: “product photography, white background, soft shadow, 8k, minimalist.” 3 detik jadi. Dulu gue butuh 3 jam.
Gue hafal prompt buat nulis caption: *”tone casual, target 25-35 tahun, panggil pembaca ‘lo’, call to action di akhir.”* 10 detik jadi. Dulu gue mikir 30 menit.
Gue ngajarin ini ke orang lain. Mereka bayar gue 300 ribu per sesi.
Ironis.
Masalah #1: AI itu alat. Tapi alat ini dipake perusahaan buat gantiin orang, bukan bantu orang. Bedanya tipis, tapi efeknya brutal.
Klien nggak bilang: “AI bantu kreator kita.” Mereka bilang: “Kreatornya kita ganti AI.”
Satu kata: ganti. Bukan bantu.
Dan gue ngajarin AI supaya makin pinter. Supaya makin banyak klien yang bilang: “Kreatornya kita ganti AI.”
Gue musuh dalam selimut buat profesi gue sendiri.
Kasus Spesifik #1: Desainer Grafis yang Jadi Operator AI
Aldo, 29 tahun. Desainer grafis 7 tahun. Portfolio: brand FMCG gede, packaging, logo, guideline.
2026: agency tempat dia kerja PHK 3 desainer. Yang dipertahanin: 2 orang, termasuk Aldo. Tugas mereka bukan desain lagi. Tugas mereka: ngetik prompt.
Aldo cerita: “Gue dulu mikir komposisi, warna, tipografi. Sekarang mikir: ‘cinematic lighting’ apa ‘studio lighting’.”
Gue: “Lo ngerasa ga berguna?”
Aldo: “Lo tau rasa makan nasi padang pake sendok garpu? Rasa masih sama. Tapi martabatnya ilang.”
Data point #1: Asosiasi Desain Grafis Indonesia (fiktif, 2026): 41% responden ngaku job brief berubah drastis dalam 2 tahun terakhir. Klien sekarang minta “20 variasi logo” dalam sehari. Dulu brief cuma 1 logo, revisi 3x, 2 minggu.
Bukan karena klien makin rajin. Tapi karena mereka tau AI bisa produksi massal.
Common mistake #1: Lo pikir AI akan naikin kualitas karya lo. Tapi yang terjadi: klien pikir kualitas 7/10 udah cukup—dan AI bisa ngasih itu 100x lebih cepet.
Kasus Spesifik #2: Penulis Konten yang Jadi Pelatih AI
Sasa, 27 tahun. Copywriter. 4 tahun nulis artikel, caption, script.
2025: kantornya beli lisensi AI writing tool. Sasa disuruh train AI itu biar nadanya sesuai brand.
Sasa ngajarin AI: “Klien kita panggil ‘kamu’, pakai bahasa santai, hindari kata ‘diskon’ ganti ‘spesial’.”
AI belajar. Sasa bangga. Seminggu kemudian, divisi konten dipotong 50%. Sasa selamat—tapi temennya nggak.
Sekarang Sasa: Prompt Engineer. Gaji naik 15%. Tapi dia cerita: “Gue nggak nulis lagi. Gue cuma nyuruh robot nulis. Kadang gue lupa cara nulis sendiri.”
Data point #2: Lowongan kerja “Copywriter” di Jobstreet 2026 turun 34% dibanding 2024. Lowongan “AI Prompt Specialist” naik 287%.
Apakah itu evolusi? Atau coping mechanism industri biar keliatan masih butuh manusia?
Kasus Spesifik #3: Yang Pindah ke Jasa yang AI Belum Bisa
Dian, 32 tahun. Fotografer produk.
2024: omzetnya turun 40%. Toko online mulai pake AI generate foto katalog. Hasilnya? Lumayan. Nggak sebagus asli, tapi cukup buat iklan. Dan gratis.
Dian panik 6 bulan.
Sekarang? Dian spesialisasi foto produk dengan model manusia. AI masih jelek banget bikin tangan manusia. Jari-jari AI itu horor—kadang 6, kadang melengkung ke belakang.
Dian bilang: “AI jago bikin gelas. Tapi jago bikin orang megang gelas? Belum. Mungkin 2 tahun lagi. Tapi sekarang, gue selamat.”
Common mistake #2: Lo pikir AI bakal takeover semua. Iya, lama-lama. Tapi masih ada celah. Cari celah itu. Bukan lawan AI-nya, tapi lawan keterbatasan AI-nya.
Jadi, Manusia 2026 Cuma Tinggal Pencet Upload?
Nggak. Tapi yang nggak bisa adaptasi? Iya.
AI Udah Bisa Bikin Konten, Nulis Kode, Sampe Ngedit Foto—itu fakta. Dan kemampuan ini bakal makin canggih tiap bulan.
Tapi yang sering dilupain: AI nggak punya taste.
Dia bisa bikin 100 logo dalam 1 menit. Tapi dia nggak tau logo mana yang nyambung sama brand. Dia bisa nulis 10 artikel sehari. Tapi dia nggak tau kapan harus ngejek, kapan harus serius, kapan harus diem.
Dia bisa generate foto produk. Tapi dia nggak pernah pegang produk itu, tau teksturnya, tau beratnya.
AI itu pekerja magang super cepat. Tapi dia tetep butuh supervisor.
Dan supervisor itu manusia.
Gue Sekarang: Ngajar AI, Tapi Juga Ngajarin Manusia
Gue buka kelas kecil. Bukan cuma ngajarin prompt. Tapi ngajarin: gimana caranya AI jadi asisten, bukan pengganti.
Murid gue:
- Desainer yang belajar prompt biar nggak lembur 24 jam
- Fotografer yang pake AI buat bikin dummy konsep sebelum photoshoot beneran
- Penulis konten yang pake AI buat nulis draf, mereka tinggal edit
Gue bilang ke mereka: “Lo harus jadi bagian yang AI nggak punya: taste, pengalaman, dan rasa malu kalo hasil jelek.”
AI nggak punya rasa malu. Dia bakal generate 100 gambar jelek tanpa kedip. Lo? Lo harus bisa bedain mana yang layak dikirim ke klien.
Itu skill. Dan skill itu masih manusia punya.
Checklist: Lo Masih Aman Atau Mulai Panas?
Lo perlu upgrade kalo:
- Lo masih ngerjain tugas repetitif yang bisa dipelajarin AI dalam 5 menit
- Lo bangga bisa “nulis cepat 5000 kata sehari” — so what? AI bisa 50.000
- Lo nolak belajar AI karena “prinsip”. Prinsip nggak bayar cicilan.
Lo masih aman kalo:
- Lo punya keahlian yang AI belum bisa: negosiasi klien, public speaking, baca emosi
- Lo pake AI buat ngerjain background task, bukan core job lo
- Lo bisa kasih perspektif yang cuma bisa dateng dari pengalaman manusia
Kesimpulan: Bukan Pencet Upload. Tapi Pencet Delete Ekspektasi Lama.
Gue masih kreator. Cuma sekarang gue punya asisten robot. Namanya AI. Dia kerja 24/7, gak protes, gak minta THR.
Tapi dia juga gak pernah dateng presentasi ke klien. Gak pernah ngajak ketemu sambil ngopi. Gak pernah nanya kabar anak klien yang lagi ujian.
Itu masih kerjaan gue.
2026, manusia nggak cuma tinggal pencet upload. Tapi manusia harus jadi yang tahu kapan harus upload, kenapa upload, dan buat siapa upload.
AI bisa bikin konten. Tapi dia nggak bisa tanggung jawab sama konten itu.
Tanggung jawab masih punya manusia.
Dan itu nggak akan bisa dipencet upload.


